Sabtu, 20 Februari 2016

Pendakian Gunung (Montaineering)

A.    Definisi Pendakian Gunung

Pendakian adalah suatu olahraga keras, penuh petualangan, dan membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan serta daya juang tinggi. Dalam arti luas, pendakian gunung berarti suatu perjalanan, mulai dari hill walking sampai dengan ekspedisi pendakian ke puncak-puncak yang tinggi dan sulit hingga memerlukan waktu yang lama, bahkan sampai berbulan-bulan. Definisi lainnya adalah sebuah kegiatan alam bebas yang menggunakan wahana gunung sebagai sarana kegiatannya.

B.    Sejarah Pendakian Gunung 

1492 » Sejarah pendakian gunung diawali oleh sekelompok orang Prancis dibawah pimpinan Anthoine de Ville yang memanjat tebing Mont Aiguille (2097m) di kawasan Vercors Massif.
1623 » Yan Cartensz adalah orang Eropa pertama yang melihat pegunungan yang sangat tinggi dan bersalju (di beberapa tempat) di pedalaman Irian.
1624 »Pator-pastor Jesuit melintasi Pegunungan Himalaya, tepatnya Mana Pass dan Garhwal di India ke kawasan Tibet.
1760 » Profesor de Saussure menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang dapat menemukan lintasan ke puncak Mont Blanc di perbatasan Prancis-Italia. Namun tak ada yang tertarik karna alasan takut kepada naga-naga yang konon mbaurekso di puncak gunung tertinggi di Eropa Barat itu.
1786 » akhirnya tergapai puncak Mont Blanc (4807m) oleh Dr.Michel-Gabriel Paccard dan seorang pandu gunung, Jacques Balmat.
1830 » Alexander Gardiner melintasi Pelana Karakoram dan Sinkiang di Cina ke wilayah Kashmir di India.
1852 » Ahli ahli ukur tanah India berhasil menemukan tinggi puncak XV, yaitu 8840 m yang menjadi puncak tertinggi di dunia, mengalahkan Puncak VIII (8598 m). Tapi setelah dikoreksi kembali beberapa tingginya menjadi 8848 m sampai sekarang.
1854 » Alfred Wills dalam pendakiannya ke Puncak Wetterhom (3708 m) yang menjadi cikal bakal pendakian gunung sebagai olahraga.
1587 » Alpine Club pertama berdiri di Inggris
1858 » Ketinggian Karakoram nomor 2 terukur 8610 m yang menjadi peringkat kedua.

C.    Jenis Pendakian Gunung

Menurut jenis kegiatan dan jenis medan yang dihadapi, pendakian gunung terbagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1.      Hill walking/Feel Walking (hiking)
Adalah sebuah kegiatan menjelajahi daerah perbukitan yang biasanya tidak terlalu tinggi dengan derajat kemiringan rata-rata di bawah 45°. Dalam hiking tidak diperlukan alat bantu khusus karena kedua kaki yang diandalkan sebagai media utamanya. Sedangkan tangan sesekali digunakan untuk memegang tongkat jelajah sebagai alat bantu.
2.     Scrambling
Merupakan kegiatan pendakian gunung di wilayah dataran tinggi pegunungan yang lebih tinggi dari bukit dan kemiringannya lebih ekstrem (kira-kira diatas 45°). Dalam scrambling, selain kaki, tangan juga digunakan sebagai penyeimbang atau pembantu gerakan pendakian.
3.      Climbing
Dalam climbing, alat bantu khusus seperti carabiner, tali panjat, harness, figure of eight, dan sling mutlak diperlukan. Kebutuhan alat bantu disesuaikan dengan medan jelajah climbing yang sangat ekstrem. Kegiatan olahraga alam ini menggunakan wahana tebing batu yang kemiringannya lebih dari 80°.
Bentuk kegiatan climbing terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
1.       Rock Climbing
Adalah pendakian pada tebing-tebing batu yang membutuhkan teknik pemanjatan dan menggunakan peralatan khusus.
2.      Snow dan Ice Climbing
Adalah pendakian pada es dan salju.

D.   Teknik pendakian Gunung

1.      Sistem Pendakian Gunung
Dalam pendakian gunung, ada dua sistem pendakian yang dikenal banyak pecinta alam, yaitu himalaya system dan alpine system.
a.      Himalaya System
Adalah sistem pendakian yang digunakan untuk perjalanan pendakian yang panjang sehingga memerlukan waktu berminggu-minggu. Sistem ini berkembang dalam pendakian ke puncak-puncak di Pegunungan Himalaya.
b.      Alpine System
Adalah sistem pendakian yang berkembang di Pegunungan Alpen. Sistem ini lebih cepat karena pendaki tidak perlu kembali ke kemah utama (base camp).
2.     Peralatan Pendakian Gunung
Peralatan dasar dalam pendakian gunung adalah sebagai berikut :
  • Ransel digunakan untuk membawa segala peralatan yang dibutuhkan dalam pendakian. Ransel yang dibutuhkan adalah ransel yang sangat kuat, ringan dan terbuat dari bahan yang tahan air. Ransel terdiri atas dua jenis, yaitu ransel dengan rangka luar (cocok dengan medan terbuka, seperti daerah berumput atau pantai) dan ransel dengan rangka dalam (cocok dengan medan gunung dan hutan).
  • Seaptu gunung yang digunakan harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut :
  1. Terbuat dari bahan yang kuat dan pemakaiannya tidak merasa tersakiti
  2. Melindungi kaki sampai mata kaki untuk mencegah bahaya terkilir
  3. Nyaman dipakai
  4. Bentuk sol bawah dapat menggigit ke segala arah agar pemakaiannya tidak mudah tergelincir
  5. Sepatu lapangan ABRI cukup baik dengan lubang modifikasi, seperti memberikan lubang disampingnya untuk ventilasi udara dan mengeluarkan air yang tertangkap di dalamnya, serta memberikan alas di bawahnya agar lebih lunak.
  • Celana gunung, harus terbuat dari bahan katun yang lembut tapi kuat. Desain celana harus memberikan ruang gerak yang leluasa bagi kaki kita. Dan harus mempunyai saku yang cukup.
  •  Botol air, berguna sebagai tempat penyimpanan air.
  • Tenda, digunakan sebagai tempat untuk beristirahat atau berteduh.
  • Rantang masak outdoor, berfungsi sebagai alat memasak.
  • Kompor lapangan, ada beberapa jenis kompor lapangan yang dapat digunakan seperti kompor parafin, kompor gas, dan kompor dengan bahan bakar spiritus.
  • Topi rimba, digunakan sebagi pelindung kepala.
  • Peta, adalah petunjuk jalan.
  • Kompas, adalah alat untuk petunjuk arah.
  • Pisau, digunakan untuk membuat api unggun dan untuk memasak. Pisau yang dapat digunakan dalam pendakian yaitu golok tebas, pisau pinggang dan pisau saku multiguna.
  • Korek api,  berguna untuk menyalakan api unggun dan api untuk memasak.
  • Senter, adalah alat untuk penerangan.
  • Matras, merupakan salah satu peralatan yang digunakan untuk tidur.

Selain menggunakan alat dasar dalam pendakian gunung, pendaki harus menyiapkan peralatan khusus, seperti :
a)      Tali houserlite/kernmantel
b)     Figure of eight
c)      Sling
d)     Prusik
e)      Bolt
f)       Webbing
g)     Harness
 Alat khusus lainnya yang dibutuhkan sesuai dengan level pendakian.
Selain peralatan di atas, ada pula peralatan tambahan. Peralatan tambahan dalam pendakian tidak harus dibawa, tetapi bisa disertakan demi kenyamanan. Peralatan tersebut adalah
a.      putis, pembalut betis agar otot-otot fit
b.      gaiters, pelindung kaki dari pacet, duri dan pencegah masuknya pasir ke dalam sepatu
c.       kelambu, pelindung dari nyamuk
d.      semir sepatu
3.      Persiapan Pendakian Gunung

Berikut adalah persiapan sebelum mendaki gunung:
  • Mental, Pendaki harus memiliki keberanian dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi tantangan di alam terbuka.
  • Pengetahuan dan keterampilan, Pendaki harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam pendakian, baik mengenai teknik medan, cuaca, maupun teknik-teknik dalam pendakian.
  • Kondisi fisik yang memadai, Pendakian gunung termasuk olahraga yang berat sehingga dibutuhkan fisik yang sehat 
  • Etika, Pendakian gunung yang dilakukan tanpa memikirkan keselamatan diri bukanlah sikap yang terpuji.
Prosedur Pendakian Gunung 


Dalam melakukan pendakian gunung, ada beberapa langkah yang harus diikuti oleh pendaki, di antaranya
  1. Mengamati lintasan dan memikirkan teknik yang akan dipakai
  2. Menyelipkan perlengkapan yang diperlukan
  3. Untuk leader  mengatur perlengkapan sedemikian rupa agar mudah diambil dan tidak mengganggu gerakan; untuk belayer memasang anchor, merapikan alat-alat, dan mengamankan leader apabila jatuh
  4. Bila belayer  dan  leader siap untuk melakukan pendakian segera berikan aba-aba pendakian
  5. Bila leader  sudah sampai pada satu pitch (tali habis), ia harus memasang anchor
  6. Leader yang sudah memasang anchor selanjutnya berfungsi sebagaibelayer, yaitu mengamankan pendakian berikutnya.
Aba-Aba dalam Pendakian Gunung
  • Climbing when you are ready(diucapkan belayer kepada leadersebagai tanda bahwa belayer  sudah siap)
  • Climbing (diucapkan leader kepada belayer sebagai tanda bahwa pendakian telah dimulai)
  • Ok (jawaban leader)
  • Take in (diucapkan belayer kepada leader sebagai tanda bahwa tali terlalu kendur sehingga harus dikencangkan)
  • Slack (diucapkan leader kepada belayer sebagai tanda bahwa tali terlalu kencang sehingga harus dikendurkan)
  • Rock (diucapkan leader kepada belayer sebagai peringatan bahwa ada batu jatuh)
  •  Fall (diucapkan leader kepada belayer sebagai tanda bahwa leader akan jatuh)
Cara Mendaki Gunung yang Baik (hiking safety)

Keselamatan pendaki sangat diutamakan. Tidak sedikit pendaki yang mengalami kecelakaan, bahkan kehilangan nyawa. Hal ini disebabkan oleh faktor alam ataupun faktor kesalahan manusia. Beberapa faktor kesalahan manusia adalah
a.      Minimnya pengetahuan tentang medan yang akan dilalui
b.     Membuka jalur baru tanpa pengetahuan navigasi dan cara bertahan hidup yang memadai
c.      Tersesat di hutan karena kekurangan makanan dan air
d.     Terjadinya gap dan perbedaan pendapat dalam kelompok pendaki
e.      Kecerobohan leader dalam menentukan jalur yang akan dilalui

Faktor alam yang menyebabkan pendaki mengalami kecelakaan adalah
  • Suhu yang tiba-tiba turun drastis yang disebabkan oleh perbedaan suhu di sekitar gunung menyebabkan turunnya daya tahan pendaki
  • Badai gunung
  • Binatang buas
  • Kebakaran hutan
  • Longsornya tebing gunung
  • Gas beracun

Untuk meminimalkan terjadinya kecelakaan pada saat mendaki gunung, pendaki harus memerhatikan hal-hal berikut:
  • Jumlah orang yang akan mendaki minimal tiga orang
  • Membawa peralatan yang lengkap, terutama peralatan pribadi, misalnya jaket, sarung tangan, tutup kepala, sepatu, dan jas hujan
  • Menjaga kekompakan tim sebagai hal vital dalam perjalanan agar tercipta suasana saling membantu dan menghargai sehingga perjalanan akan semakin cepat dan baik
  • Mempunyai leader yang berpengalaman baik secara mental maupun pengetahuan
  • Membawa logistik dan air yang cukup, mjnimal untuk diri sendiri
  • Menjaga kondisi tubuh agar tetap fit
Pengetahuan yang Dibutuhkan dalam Pendakian Gunung

Dalam melakukan pendakian, pendaki harus memiliki pengetahuan, minimal untuk menyelamatkan diri sendiri sebelum menyelamatkan orang lain. Pengetahuan-pengetahun tersebur adalah
a.      Navigasi darat
b.     Cara bertahan hidup
c.      Geographical Positioning System (GPS) 

  •  

Persiapan Pendakian

Kesuksesan yang merupakan faktor penunjang tinggi rendahnya self-esteem, merupakan bagian dari pengalaman para pendaki dalam mendaki gunung. Fenomena yang terjadi adalah apakah mendaki gunung bagi para pendaki merupakan sensation seeking untuk meningkatkan self-esteem mereka? Selanjutnya, sensation seeking bagi para pendaki gunung kemungkinan memiliki hubungan dengan self-esteem pendaki tersebut.

Karena pengalaman yang dialami para pendaki dalam pendakian dapat berupa keberhasilan maupun kegagalan. Persiapan mendaki gunung Persiapan umum untuk mendaki gunung antara lain kesiapan mental, fisik, etika, pengetahuan dan ketrampilan. Kesiapan mental. Mental amat berpengaruh, karena jika mentalnya sedang fit, maka fisik pun akan fit, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya.

  • Kesiapan fisik.


Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan, misalnya : Stretching /perenggangan [sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga, lakukanlah perenggangan, agar tubuh kita dapat terlatih kelenturannya]. Jogging (lari pelan-pelan) Lama waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan kita, tetapi waktu, jarak dan kecepatan selalu kita tambah dari waktu sebelumnya. Latihan lainnya bisa saja sit-up, push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan kita dan tambahlah porsinya melebihi porsi sebelumnya.

  • Kesiapan administrasi.


Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan dituju. Kesiapan pengetahuan dan ketrampilan. Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu bagi pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC [emergency medical care] praktis.

  •  Perencanan pendakian.



Hal pertama yang ahrus dilakukan adalah mencari informasi. Untuk mendapatkan data-data kita dapat memperoleh dari literatur- literatur yang berupa buku-buku atau artikel-artikel yang kita butuhkan atau dari orang-orang yang pernah melakukan pendakian pada objek yang akan kita tuju. Tidak salah juga bila meminta informasi dari penduduk setempat atau siapa saja yang mengerti tentang gambaran medan lokasi yang akan kita daki.

  • ROP (Rencana Operasi Perjalanan)


Buatlah perencanaan secara detail dan rinci, yang berisi tentang daerah mana yang dituju, berapa lama kegiatan berlangsung, perlengkapan apa saja yang dibutuhkan, makanan yang perlu dibawa, perkiraan biaya perjalanan, bagaimana mencapai daerah tersebut, serta prosedur pengurusan ijin mendaki di daerah tersebut. Lalu buatlah ROP secara teliti dan sedetail mungkin, mulai dari rincian waktu sebelum kegiatan sampai dengan setelah kegiatan. Aturlah pembagian job dengan anggota pendaki yang lain (satu kelompok), tentukan kapan waktu makan, kapan harus istirahat, dan sebagainya. Intinya dalam perencanaan pendakian, hendaknya memperhatikan :
  1. Mengenali kemampuan diri dalam tim dalam menghadapi medan.
  2. Mempelajari medan yang akan ditempuh.
  3. Teliti rencana pendakian dan rute yang akan ditempuh secermat mungkin.
  4. Pikirkan waktu yang digunakan dalam pendakian.
  5. Periksa segala perlengkapan yang akan dibawa.
  6. Perlengkapan dasar perjalanan

  • Perlengkapan dasar perjalanan diantaranya:

  1. Perlengkapan jalan : sepatu, kaos kaki, celana, ikat pinggang, baju, topi, jas hujan, dll.
  2. Perlengkapan tidur : sleeping bag, tenda, matras dll.
  3. Perlengkapan masak dan makan: kompor, sendok, makanan, korek dll.
  4. Perlengkapan pribadi : jarum , benang, obat pribadi, sikat, toilet paper / tissu, dll.
  5. Ransel / carrier.
  6. Perlengkapan pembant: Kompas, senter, pisau pinggang, golok tebas, Obat-obatan Peta, busur derajat, douglass protector, pengaris, pensil dll.
  7. Alat komunikasi : (Handy talky), survival kit, GPS [kalo ada],Jam tangan.

  • Packing atau menyusun perlengkapan kedalam ransel.

  1. Kelompokkan barang barang sesuai dengan jenis jenisnya.
  2. Masukkan dalam kantong plastik.
  3. Letakkan barang barang yang ringan dan jarang penggunananya (mis : Perlengkapan tidur) pada yang paling dalam.
  4. Barang barang yang sering digunakan dan vital letakkan sedekat mungkin dengan tubuh dan mudah diambil.
  5. Tempatkan barang barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan / punggung.
  6. Buat Checklist barang barang tersebut.

Sejarah Pendakian

Kegiatan mendaki gunung telah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu, bahkan menurut kisah Mahabarata. Pandawa Lima yang terdiri dari Sadewa, Nakula, Arjuna, Bhima dan Yudhisthira, beserta istri mereka Draupadi, mendaki gunung Mahameru untuk mencapai puncaknya. 
Dalam sejarah dunia, pendakian gunung tertinggi pertama kalinya terjadi dengan pencapaian puncak Everest oleh Sir Edmund Hillary, pendaki gunung asal New Zealand dan Tenzing Norgey, seorang sherpa [Pemandu atau porter di pegunungan Himalaya berasal dari bangsa Tibet] asal Tibet pada tahun 1953. 
Keinginan manusia untuk mendaki gunung sebelumnya sudah muncul pada abad 19, ketika orang-orang Swiss (The Alps) mulai mendaki gunung-gunung untuk mencapai puncaknya, dan Edward Whymper, seorang berkebangsaan Inggris, adalah orang yang pertama berhasil mencapai puncak gunung Matterhorn pada tahun 1865.
Sejak saat itu, banyak ekspedisi-ekspedisi untuk mencapai puncak-puncak gunung di dunia. Klub pendakian gunung Alpine Club dari Inggris telah melakukan lebih dari 600 ekspedisi semenjak Alpine Club didirikan pada tahun 1857. Tercatat dalam Russian Mountaineering Federation, bahwa telah dilakukan 48 ekspedisi untuk mencapai puncak-puncak Himalaya pada tahun 1994-1998.
Di Indonesia sendiri tercatat 145.151 orang yang mendaki gunung Gede Pangrango, Jawa Barat pada tahun 1996-2000. Dijelaskan pula dalam Diktat Sekolah Manajemen Ekspedisi Wanadri 2000 bahwa hampir semua perguruan tinggi atau SLTA mempunyai kelompok-kelompok penggiat alam terbuka. secara perorangan maupun berkelompok mereka mengembangkan segi petualangan, segi ilmu pengetahuan, segi olahraga, segi rekreasi dan segi wisata. Perkembangan ini dilakukan secara luas baik hanya mencakup satu segi saja ataupun secara berkaitan (misalnya mendaki gunung untuk melakukan petualangan saja, olahraga saja, atau untuk olahraga, rekreasi dan wisata) yang mengembangkan segi ilmu pengetahuan dan segi petualangan. Kenapa Mendaki Gunung Mendaki gunung seperti kegiatan petualangan lainnya merupakan sebuah aktivitas olahraga berat.
Kegiatan itu memerlukan kondisi kebugaran pendaki yang prima. Bedanya dengan olahraga yang lain, mendaki gunung dilakukan di tengah alam terbuka yang liar, sebuah lingkungan yang sesungguhnya bukan habitat manusia, apalagi anak kota. Pendaki yang baik sadar adanya bahaya yang bakal menghadang dalam aktivitasnya yang diistilahkan dengan bahaya obyektif dan bahaya subyektif. Bahaya obyektif adalah bahaya yang datang dari sifat-sifat alam itu sendiri. Misalnya saja gunung memiliki suhu udara yang lebih dingin ditambah angin yang membekukan, adanya hujan tanpa tempat berteduh, kecuraman permukaan yang dapat menyebabkan orang tergelincir sekaligus berisiko jatuhnya batu-batuan, dan malam yang gelap pekat. Sifat bahaya tersebut tidak dapat diubah manusia.
Hanya saja, sering kali pendaki pemula menganggap mendaki gunung sebagai rekreasi biasa. Apalagi untuk gunung-gunung populer dan "mudah" didaki, seperti Gede, Pangrango atau Salak. Akibatnya, mereka lalai dengan persiapan fisik maupun perlengkapan pendakian. Tidak jarang di antara tubuh mereka hanya berlapiskan kaus oblong dengan bekal biskuit atau air ala kadarnya. Meski tidak dapat diubah, sebenarnya pendaki dapat mengurangi dampak negatifnya. Misalnya dengan membawa baju hangat dan jaket tebal untuk melindungi diri dari dinginnya udara. Membawa tenda untuk melindungi diri dari hujan bila berkemah, membawa lampu senter, dan sebagainya. Sementara bahaya subyektif datangnya dari diri orang itu sendiri, yaitu seberapa siap dia dapat mendaki gunung. Apakah dia cukup sehat, cukup kuat, pengetahuannya tentang peta kompas memadai (karena tidak ada rambu-rambu lalu lintas di gunung), dan sebagainya. Sebagai gambaran, Badan SAR Nasional mendata bahwa dari bulan Januari 1998 sampai dengan April 2001 tercatat 47 korban pendakian gunung di Indonesia yang terdiri dari 10 orang meninggal, 8 orang hilang, 29 orang selamat, 2 orang luka berat dan 1 orang luka ringan, dari seluruh pendakian yang tercatat (Badan SAR Nasional, 2001) Data lain, sejak tahun 1969 sampai 2001, gunung Gede dan Pangrango di Jawa Barat telah memakan korban jiwa sebanyak 34 orang. Selanjutnya, dari 4000 orang yang berusaha mendaki puncak Everest sebagai puncak gunung tertinggi di dunia, hanya 400 orang yang berhasil mencapai puncak dan sekitar 100 orang meninggal. Rata-rata kecelakaan yang terjadi pada pendakian dibawah 8000 m telah tercatat sebanyak 25% pada setiap periode pendakian. Kedua bahaya itu dapat jauh dikurangi dengan persiapan. Persiapan umum yang harus dimiliki seorang pendaki sebelum mulai naik gunung antara lain: Membawa alat navigasi berupa peta lokasi pendakian, peta, altimeter [Alat pengukur ketinggian suatu tempat dari permukaan laut], atau kompas. Untuk itu, seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan melakukan orientasi. Jangan sekali-sekali mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan berpengetahuan mendalam tentang navigasi.
Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat. Berolahragalah seperti lari atau berenang secara rutin sebelum mendaki. Bawalah peralatan pendakian yang sesuai. Misalnya jaket anti air atau ponco, pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan, sepatu karet atau boot (jangan bersendal), senter dan baterai secukupnya. tenda, kantung tidur, matras. Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik. Berapa banyak harus membawa beras, bahan bakar, lauk pauk, dan piring serta gelas. Bawalah wadah air yang harus selalu terisi sepanjang perjalanan. Bawalah peralatan medis, seperti obat merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu. Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi dengan kelompok pencinta alam yang kini telah tersebar di sekolah menengah atau universitas-universitas.

Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang. Memang, mendaki gunung memiliki unsur petualangan. Petualangan adalah sebagai satu bentuk pikiran yang mulai dengan perasaan tidak pasti mengenai hasil perjalanan dan selalu berakhir dengan perasaan puas karena suksesnya perjalanan tersebut. Perasaan yang muncul saat bertualang adalah rasa takut menghadapi bahaya secara fisik atau psikologis. Tanpa adanya rasa takut maka tidak ada petualangan karena tidak ada pula tantangan. Seperti yang dinyatakan dalam data harian Kompas, tercatat dari 50 orang yang pernah tertimpa musibah dalam pendakian gunung Semeru, Jawa Tengah, 24 orang dinyatakan tewas, dua orang hilang, 10 orang luka-luka, dan empat orang selamat. Banyaknya kecelakaan dan hambatan yang kerap dialami oleh orang yang mendaki gunung, tidak membuat para pendaki berhenti melakukan pendakian. Data terakhir menyatakan bahwa pada bulan Juli 2002 masih dilakukan pendakian oleh sepuluh pendaki gunung asal Bandung menuju gunung Slamet. Pendakian tersebut menyebabkan kesepuluh pendaki gunung tersebut hilang sehingga diperbantukan sebanyak 24 orang anggota Tim SAR Polres Purbalingga dan gabungan pecinta alam dari Purwokerto diterjunkan ke lokasi untuk mencari para pendaki gunung tersebut.
Risiko mendaki gunung yang tinggi, tidak menghalangi para pendaki untuk tetap melanjutan pendakian, karena Zuckerma menyatakan bahwa para pendaki gunung memiliki kecenderungan sensation seeking [pemburuan sensasi] tinggi. Para sensation seeker menganggap dan menerima risiko sebagai nilai atau harga dari sesuatu yang didapatkan dari sensasi atau pengalaman itu sendiri. Pengalaman-pengalaman yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan tersebut membentuk self-esteem [kebanggaan /kepercayaan diri. Pengalaman-pengalaman ini selanjutnya menimbulkan perasaan individu tentang dirinya, baik perasaan positif maupun perasaan negatif. Perjalanan pendakian yang dilakukan oleh para pendaki menghasilkan pengalaman, yaitu pengalaman keberhasilan dan sukses mendaki gunung, atau gagal mendaki gunung.

TENTANG KAMI

Pisca Adventur 
alamat : Perumahan Cempaka wangi regency blok P No. 15 Desa Cempaka kecamtan Talun Kabupaten cirebon